Monthly Archives: July 2014

TARIAN ADAT SUKU FLORES

Tarian yang terdapat disuku flores :

 Indonesia mempunyai banyak sekali ragam suku dan budaya. Di dalam suku suku di Indonesia memiliki banyak sekali perbedaan salah satunya adalah adalah tarian. Berikut ini adalah beberapa contoh tarian yang di dalam suku flores.

       I.            Tari Caci

Caci atau tari Caci atau adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Caci merupakan tarian atraksi dari bumi Congkasae- Manggarai. Hampir semua daerah di wilayah ini mengenal tarian ini. Kebanggaan masyarakat Manggarai ini sering dibawakan pada acara-acara khusus. Tarian Caci Caci berasal dari kata ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti uji. Jadi, caci bermakna ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah dan merupakan ritual Penti Manggarai.

       I.            TARI DANDING ( TANDAK )

Danding adalah Sebuah Tarian serta Nyayian dalam bentuk Pantun dari kelompok Pria, dan kelompok Wanita yang menjawabnya ataupun sebaliknya. Lagu atau Danding ini sebuah tanya jawab apa yang terjadi di bumi ini dalam kehidupan sehari-harinya. Pelaksanaannya pada malam hari, dimana peserta Tandak membentuk sebuah linggkaran dan saling berpegangan pundak atau berpelukan dan berjalan sambil mengangkat kaki dan menghentakan kaki ke tanah yang di ketuai oleh seorang yang namanya; “Kepala Nggejang” dari bahasa daerah setempat atau pemberi Irama gerakan dari lagu atau nyanyian tersebut dan berdiri di tengah lingkaran dengan membunyikan alat Giring-giring dari bahan besi atau perak campur perunggu.

Tarian ini bertujuan agar Pemuda dan Pemudi saling mempunyai kesempatan untuk saling berpandangan dan kadang-kadang berakhir dengan jatuh cinta. Intinya Tarian ini dibuat sebagai tempat pertemuan antara Pemuda dan Pemudi dari berlainan kampung pada malam hari. Pada saat acara ini berlangsung semua bebas memilih pasangan dan tidak ada yang melarangnya selama pertemuan pemuda-pemudi berjalan aman,asal jangan melakukan pemerkosaan.

Banyak Wanita yang lari ikut Pria pada acara ini dan bersatu menjadi Suami Istri jika keluarganya merestui pernikahan anaknya. Ada juga yang tidak, jika masih ada hubungan keluarga atau sejarah nenek moyangnya sama. Dan yang hadir pada acara ini dari Anak kecil sampai orang dewasa dari beberapa kecamatan yang ada di manggarai timur. Acara ini diadakan setiap selesai panen yaitu pada bulan Juli-oktober setiap tahunnya.

 

FILOSOFI DARI TARI CACI :

   Tari Caci adalah ritual Penti Manggarai. Upacara adat merayakan syukuran atas hasil panen yang satu ini dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga desa. Bahkan ajang prosesi serupa juga dijadikan momentum reuni keluarga yang berasal dari suku Manggarai. Tari ini dimainkan saat syukuran musim  panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti) , upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

ritual yang kerap dilakukan masyarakat suku Manggarai. ada Caci, olah raga tradisional yang dijadikan tradisi ritual menempa diri. Pentas kolosal pemuda setempat itu diyakini bisa terus menjaga jiwa sportivitas. Maklum, olah raga yang dilakukan tak lain dari pertarungan saling pukul dan tangkis dengan menggunakan pecut dan tameng. Pertarungan antardua pemuda tersebut selalu dipenuhi penonton dalam setiap pergelaran di lapangan rumput Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai.

PAKAIAN DAN ATRIBUT YANG DI GUNAKAN:

  1. PAKAIAN

      Pakaian penarinya yang khas sudah menjadi daya tarik sendiri. Penari perang tersebut mengenakan celana panjang berwarna putih dipadu dengan kain songke (sejenis songket khas Manggarai) yang dikenakan di sebatas pinggang hingga lutut. Tubuh bagian atas dibiarkan telanjang sebab tubuh tersebut adalah sasaran bagi serangan lawan. Pada bagian kepala, para penari mengenakan topeng (panggal) berbentuk seperti tanduk kerbau dan terbuat dari kulit kerbau yang keras serta dihiasi kain warna-warni. Panggal akan menutupi sebagian muka yang sebelumnya sudah dibalut dengan handuk atau destar sebagai pelindung.

    Para penari biasanya juga mengenakan hiasan mirip ekor kuda terbuat dari bulu ekor kuda (lalong denki). Pada bagian sisi pinggang terpasang sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan. Terdapat pula untaian pada pinggang belakang yang akan bergemirincing mengikuti gerak penari sekaligus penambah semarak musik gendang dan gong serta nyanyian (nenggo atau dere) pengiring tarian.

    Para penari tersebut nampak gagah mengenakan pakaian tersebut ditambah lagi dengan postur tubuh yang atletis. Penampilan mereka sebagai penari perang semakin meyakinkan dengan atribut senjata. Penari yang berperan sebagai penyerang (paki) dipersenjatai dengan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang dikeringkan. Pegangan cambuk juga terbuat dari lilitan kulit kerbau. Pada bagian ujung cambuk, biasanya dipasang kulit kerbau tipis yang sudah dikeringingkan (lempa) atau dapat juga menggunakan lidi enau yang masih hijau (pori).

    Untuk pakaian, para penari biasa bertelanjang dada dengan bawahan celana panjang warna putih yang dilapisi sarung songket khas Manggarai berwarna hitam bercorak. Di bagian pinggang, terpasang lalong denki (aksesori berbentuk ekor kerbau yang tegak dilengkapi untaian lonceng yang disebut giring-giring, yang berbunyi ketika para penari bergerak). Di sekujur pinggang juga terdapat sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan.

    Mereka menggunakan kain destar untuk menutupi wajah dengan tujuan melindungi dari cambukan. Sebagai penghias kepala, mereka mengenakan panggal yang terbuat dari kulit kerbau berlapis kain warna-warni. Bentuk panggal adalah kerbau. Ini melambangkan bahwa lelaki harus tangguh dan berani, serupa kerbau. Simbolisme terhadap kerbau memang begitu kuat dalam tari caci. Sebab, bagi masyarakat Manggarai, kerbau adalah hewan terkuat dan terganas di dunia. Di luar itu, bagi masyarakat Manggarai, panggal mengandung arti lima dasar kepercayaan. Bagian tengahnya melambangkan rumah gendang, yaitu pusat persatuan masyarakat Melo tempat terselenggaranya berbagai acara persembahan.

     

    1. ATRIBUT

       Pemain dilengkapi dengan pecut (larik), perisai (nggiling), penangkis (koret), dan panggal (penutup kepala), pelindung dada, pelindung kaki dan lutut (bik). Pemain bertelanjang dada, namun mengenakan pakaian perang pelindung paha dan betis berupa celana panjang warna putih dan sarung songke (songket khas Manggarai). Kain songket berwarna hitam dililitkan di pinggang hingga selutut untuk menutupi sebagian dari celana panjang. Di pinggang belakang dipasang untaian giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan pemain.

    Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan.

    Bagian kepala dan wajah pemain hampir seluruhnya tertutup hiasan kepala dan kain sarung (kain destar) yang dililit ketat di sekeliling wajah dengan maksud melindungi wajah dan mata dari cambukan. Seluruh kulit tubuh pemain adalah sah sebagai sasaran cambukan, kecuali bagian tubuh dari pinggang ke bawah yang ditandai sehelai kain yang menjuntai dari sabuk pinggang. Kulit bagian dada, punggung, dan lengan yang terbuka adalah sasaran cambuk. Caci juga sekaligus merupakan medium pembuktian kekuatan seorang laki-laki Manggarai. Luka-luka akibat cambukan dikagumi sebagai lambang maskulinitas.

    Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.

    Bagi orang Kabupaten Manggarai, caci merupakan pesta besar. Desa penyelenggara memotong beberapa ekor kerbau untuk makanan para peserta dan penonton.

 

http://tarian-tradisional-indonesia.blogspot.com/2011/11/tari-khas-flores.html

http://baimsalves.blogspot.com/2013/09/tarian-caci-sebagai-ekspresi-budaya.html

Advertisements

SUKU FLORES

SEJARAH SINGKAT TENTANG SUKU FLORES

 

                Suku bangsa Flores adalah merupakan percampuran etnis antara melayu, Melanesia, dan portugis. Di karenakan pernah menjadi koloni portugis, maka interaksi dengan kebudayaan portugis sangat terasa dalam kebudayaan flores baik melalui Genetik, Agama, dan Budaya. Nama flores itu sendiri berasal dari bahasa portugis yaitu “ cabo de flores “ yang berarti “tanjung bunga”. Nama itu semula di berikan oleh S.M. Cabot untuk menyambut wilayah timur dari pulau flores. Nama itu kemudian di pakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh gubernur jenderal hindia belanda Hendrik Brouwer. Nama flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flores yang di kandung di pulau ini. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam oleh Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli pulau flores adalah nusa nipa (pulau ular). Dari sudut antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, cultural, dan ritual masyarakat flores.

 

SIKAP HIDUP SUKU FLORE

 

  1. Budaya

    Suku flore menempati sebuah wilayah kepulauan dengan luas 3079,23 KM², berbatasan dengan kabupaten alor di timur, kabupaten sikka di barat utara dengan laut flores dan selatan, laut sawu.

    Konsep rumah adat yang digunakan masyarakat flores selalu dianggap sebagai pusat kegiatan ritual suku. Rumah adat dijadikan untuk menghormati Lera Wulan Tana Enka (wujud tertinggi yang menciptakan dan yang empunya bumi).

  2. BahasaSuku flores di kenal dengan budaya bahasa yang sangat multi bahasanya, suku flores mempunyai beragam bahasa komunikasi sehari hari antar masyarakat yaitu salah satunya bahasa Werana, bahasa Rembong, bahasa Rajong, dan bahasa Manggarai Kuku.
  3. Sistem kekerabatan

    Suku flores mempunyai sistem kekerabatan kuno, yaitu:

    • Kelompok kekerabatan di flores yang berfungsi paling intensif dalam kehidupan sehari hari adalah keluarga luas yang verilokal(kilo).
    • Sebagian besar kilo biasanya merasakan diri terikat pada patrilinier sebagai keturunan dari seorang nenek moyang kira-kira lima sampai enam generasi keatas.
    • Dalam suatu perkawinan, pihak perempuan akan meminta mas kawin yang banyak, mas kawin biasaanya berupa kerbau, makanan, dll.
  4. Sistem pernikahan

    Di dalam adat pernikahan suku flores, suku flores mempunyai tiga sistem pernikahan, yaitu:

    • Cangkang

    Perkawinan antar suku atau perkawinan diluar suku. Dalam perkawinan ini yang ditekankan adalah calon mempelai pria harus memiliki status sosial yang tinggi untuk meminang pengantin perempuannya.

    • Tungku

    Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu (kerabat). Perkawinan antara anak laki laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara ibu atau om.

    • Cako

    Perkawinan dalam suku sendiri. Perkawinan cako biasanya dapat dilakukan pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga.

  5.  Pola perkampungan suku flores

    • Desa desa di suku flores pada zaman dahulu di bangun di atas bukit karena untuk pertahanan apabila ada suatu hal yang tidak di inginkan.
    • Pola perkampungan suku flores terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian depan, bagian tengah, dan bagian belakang yang berada dalam satu lingkaran desa tersebut.
    • Pada zaman dahulu tiap tiap bagian dari rumah adat suku flores ada tempat tempat keramat yang berupa timbunan batu batu besar. Namun sekarang ini hanya ada satu tempat keramat dalam sebuah desa, dan terletak dilapangan terbuka yang dekat dengan balai desa dan biasa di sebut dengan mbaru gendang, Karena di dalamnya terdapat sebuah genderang yang keramat.

 

KEHIDUPAN ORANG ORANG SUKU FLORES

Adapun kehidupan orang orang suku flores adalah dengan:

  • Dengan bercocok tanam: masyarakat suku flores juga sering melakukan bercocok tanam berupa buah buahan ataupun sayur sayuran. Jagung dan padi adalah tanaman pokok dari suku flores, namun tidak hanya bercocok tanam, suku flores juga melakukan perternakan berupa sapi, kerbau, babi, kuda, anjing, dan ayam.

 

 

 

http://www.slideshare.net/soparyslearn/kebudayaan-flores

http://group.google.com/forum/#!msg/wayungyang/qfVi0ieVErM/E83eqnGnYHcJ